SINGAPURA, kabarbisnis.com: Harga minyak dunia berisiko bertahan di level tinggi selama berbulan-bulan seiring berlanjutnya gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol memperingatkan, pasar energi tidak memiliki jalur yang masuk akal untuk segera kembali ke kondisi sebelum perang. Ancaman tak berhenti pada minyak mentah, tetapi juga merambat ke harga diesel, gas alam cair (LNG), hingga pangan.
Harga minyak mentah sempat mendekati US$120 per barel di tengah krisis tersebut. Sementara itu, harga sejumlah produk olahan minyak, terutama diesel, telah mencapai dua kali lipat dibandingkan level sebelum perang. Lonjakan ini menambah tekanan terhadap biaya transportasi, industri, dan pertanian.
“Jika situasi ini berlangsung selama beberapa minggu dan bulan ke depan, saya tidak melihat jalur yang masuk akal untuk kembali ke kondisi sebelum perang dimulai,” kata Birol di sela Singapore Energy Week (SIEW) 2026, dikutip Rabu (28/10/2026).
Peringatan Birol mengindikasikan bahwa risiko pasar energi tidak semata-mata terletak pada lonjakan harga minyak mentah, tetapi juga pada semakin terbatasnya pasokan bahan bakar yang dibutuhkan perekonomian. Jika gangguan berlangsung lebih lama, tekanan harga dapat meluas ke berbagai sektor dan memperbesar risiko inflasi global.
Negara-negara Asia menjadi salah satu kawasan yang rentan karena ketergantungan pada pasokan minyak dan LNG dari Timur Tengah. Gangguan ekspor dari kawasan tersebut memperketat pasokan global, sementara pembeli di Asia dan Eropa harus bersaing mendapatkan kargo LNG yang tersedia.
Persaingan memperebutkan pasokan berpotensi mendorong harga gas lebih tinggi. Bagi negara pengimpor energi, situasi ini dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan bakar sekaligus menambah beban industri dan konsumen.
Tekanan juga semakin terasa di pasar produk olahan minyak. Diesel, misalnya, merupakan komponen penting dalam transportasi barang, operasional industri, dan kegiatan pertanian. Kenaikan harganya dapat merambat ke ongkos logistik dan biaya produksi, yang pada akhirnya berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa.
Risiko tersebut menjadi lebih besar ketika kenaikan harga energi terjadi bersamaan dengan gangguan pasokan pupuk. Birol memperingatkan, kombinasi kedua faktor itu dapat mendorong harga pangan naik dalam beberapa bulan mendatang, terutama ketika sejumlah negara memasuki musim tanam.
Kenaikan biaya bahan bakar dan pupuk akan memperbesar beban petani. Jika biaya tersebut tidak dapat diserap produsen, sebagian tekanannya berpotensi diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga pangan.
Menurut Birol, keterbatasan pasokan produk olahan minyak tidak hanya dipicu oleh gangguan dari Timur Tengah. Perang Rusia-Ukraina turut memengaruhi kapasitas pengolahan global, sementara sejumlah kilang memasuki periode pemeliharaan ketika permintaan diesel di beberapa wilayah diperkirakan meningkat menjelang musim dingin.
Kondisi tersebut berpotensi mempersempit pasokan produk olahan pada saat kebutuhan pasar meningkat. Karena itu, Birol mengingatkan agar perhatian tidak hanya tertuju pada pergerakan harga minyak mentah, tetapi juga pada ketersediaan dan harga diesel, LPG, bensin, serta bahan bakar pesawat.
Persoalan ini penting karena harga minyak mentah tidak selalu mencerminkan tekanan yang sebenarnya dihadapi konsumen dan dunia usaha. Keterbatasan kapasitas kilang dapat membuat harga produk olahan tetap tinggi meskipun tekanan pada harga minyak mentah mulai mereda.
Cadangan Minyak Mulai Menipis
IEA sebelumnya mengumumkan pelepasan 400 juta barel minyak ke pasar pada 11 Maret. Birol menyebut langkah tersebut sebagai upaya bersejarah untuk meredam gangguan pasokan. Namun, menurut dia, sebagian besar minyak yang dilepas telah terserap pasar.
Selain pelepasan cadangan strategis, harga minyak sejauh ini juga tertahan oleh surplus pasokan yang sebelumnya tersedia di pasar. Upaya sejumlah produsen, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, untuk menyalurkan minyak melalui jalur perdagangan alternatif turut membantu menjaga aliran pasokan.
Akan tetapi, berbagai penyangga tersebut tidak dapat diandalkan tanpa batas. Jika gangguan pasokan terus berlangsung, kemampuan cadangan strategis dan pasokan alternatif untuk meredam tekanan harga akan semakin terbatas.
Situasi ini membuat risiko pasar energi tidak hanya bergantung pada perkembangan konflik, tetapi juga pada seberapa lama negara-negara mampu mempertahankan pasokan melalui cadangan dan jalur distribusi alternatif.
Ketahanan Energi Jadi Agenda Mendesak
Birol meminta negara-negara memperkuat kesiapan menghadapi gangguan pasokan, antara lain dengan menjaga cadangan minyak dan produk energi untuk kebutuhan darurat. Diversifikasi sumber energi dan pemasok juga perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang, khususnya bagi negara yang sangat bergantung pada impor.
Krisis saat ini, menurut dia, semestinya menjadi momentum bagi pemerintah untuk meninjau kembali strategi energi, kemitraan pasokan, serta pilihan bahan bakar dan teknologi. Tujuannya bukan hanya menjaga ketersediaan energi, melainkan juga mengurangi kerentanan terhadap guncangan geopolitik.
Bagi perekonomian global, tantangan yang muncul kini melampaui persoalan harga minyak di pasar internasional. Ketika pasokan energi terganggu, dampaknya dapat menjalar ke biaya produksi, transportasi, pangan, dan inflasi.
Peringatan IEA menjadi sinyal bahwa pemulihan harga energi ke level sebelum perang tidak bisa diasumsikan terjadi dalam waktu dekat. Selama gangguan pasokan belum mereda dan kapasitas penyangga pasar terus tergerus, tekanan terhadap dunia usaha dan konsumen berpotensi bertahan lebih lama.
Sumber: https://www.kabarbisnis.com/read/28137666/iea-minyak-dunia-sulit-kembali-murah-harga-pangan-terancam-ikut-melonjak