Bisnis.com, JAKARTA— Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan pembagian tugas bagi dua Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) setelah Alim Setiawan Slamet dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 15 Oktober 2026.
Amran mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) kini memiliki dua wakil menteri dengan latar belakang berbeda. Dia optimistis penambahan tenaga baru di jajaran pimpinan Kementan dapat memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan.
Dengan bergabungnya Alim, Amran optimistis Indonesia dapat mempertahankan swasembada beras dan mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan pada 2026 dan tahun-tahun berikutnya.
“Karena ini ada energi baru. Insyaallah pertanian semakin kuat,” kata Amran usai penyambutan Wakil Menteri Pertanian Alim Setiawan Slamet di Kantor Kementan pada Senin (19/10/2026).
Amran menjelaskan, pembagian tugas kedua wakil menteri akan disesuaikan dengan latar belakang dan bidang yang perlu diperkuat. Wakil Menteri Pertanian Saleh Mustafa, yang merupakan mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), akan berfokus pada pelaksanaan program pompanisasi dan pencetakan sawah.
Sementara itu, Alim, yang sebelumnya menjabat Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), akan berfokus pada peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan kedelai, program Pertanian Modern—Advanced Agricultural System (PM-AAS), serta komoditas bawang putih.
Amran juga menugaskan Alim untuk memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi di seluruh Indonesia guna mendorong peningkatan produktivitas dan mencari solusi atas komoditas pangan yang belum mencapai swasembada.
“ Kemudian Wamen 1, Letnan Jenderal Saleh Mustafa, itu fokus mengeksekusi target-target pompanisasi, cetak sawah,” kata Amran.
Adapun program hilirisasi pertanian akan dikerjakan bersama oleh Amran dan kedua wakilnya. “Ya itu kami kerjakan bersama-sama,” imbuhnya.
Sementara itu, Alim mengatakan telah mendapatkan arahan yang lebih jelas mengenai tugasnya dalam membantu Amran, terutama untuk mewujudkan swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurutnya, kedua target tersebut dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan sektor pertanian.
“Untuk bisa mencapai itu saya kira arahan daripada pak Menteri tadi adalah bagaimana kita mengimplementasikan pertanian yang modern, pertanian yang optimum gitu ya, dan itu hanya bisa dilakukan dengan inovasi dan juga hasil-hasil riset termasuk juga teknologi tepat guna,” kata Alim.
Alim mengatakan, salah satu program yang akan menjadi perhatian adalah pengembangan pertanian modern melalui PM-AAS yang telah diinisiasi sebelumnya. Ke depan, dia akan mendorong kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi untuk menguji dan meneliti penerapan teknologi serta inovasi pertanian.
Menurutnya, program tersebut memiliki potensi meningkatkan produktivitas secara signifikan, bahkan mencapai lebih dari 10 ton per hektare.
Dia berharap, pengembangan teknologi dan inovasi tersebut dapat mendukung terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan.
“Belum juga saya kira varietas unggul, termasuk juga kedelai. Kedelai saya kira orientasinya adalah bagaimana kita mengurangi impor. Itu saya kira orientasinya. Tentu peningkatan produktivitas, kemudian juga perluasan itu menjadi hal yang penting. Dan juga bawang putih saya kira, itu yang tadi ditugaskan ya, untuk menjadi fokus saya ke depan,” katanya.
Di sisi lain, Alim mengatakan masih menjalani masa transisi terkait posisinya sebagai Rektor IPB. Dia tengah berkoordinasi dengan empat organ di lingkungan kampus, termasuk Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Akademik, dan Dewan Guru Besar.
Alim menyebut terdapat preseden pada tahun sebelumnya ketika Rektor IPB Arif Satria ditugaskan sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Saat itu, terdapat masa transisi sebelum pergantian kepemimpinan di IPB.
Dia memperkirakan masa transisi tersebut dapat berlangsung maksimal sekitar satu bulan apabila mengikuti preseden sebelumnya. Proses itu mencakup persiapan memori serah terima jabatan dan mekanisme pergantian rektor antarwaktu yang harus mengikuti ketentuan institusi, termasuk melalui rapat gabungan Senat Akademik dan MWA.
“Itu butuh waktu. Dan juga ada wisuda tiga kali, gitu ya, yaitu tanggal 28 Oktober, tanggal 11 dan 12 November. Ada kebutuhan administrasi ya, ijazah yang harus ditandatangani, harapannya bisa ditandatangani rektor yang definitif,” katanya.
Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20261019/12/2013884/mentan-amran-wamen-saleh-fokus-cetak-sawah-alim-bertugas-kerek-produktivitas