Bank Dunia Prediksi Harga Komoditas Naik 23%, Ingatkan Potensi Krisis Pangan

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Dunia (World Bank) memperkirakan harga komoditas global meningkat rata-rata 23% pada 2026 seiring dengan meningkatnya guncangan ekonomi. Kenaikan harga energi, pengiriman biji-bijian yang terhambat, hingga El Niño, berpotensi memicu krisis pangan hingga menciptakan kemiskinan ekstrem.

Proyeksi tersebut dirilis dalam laporan bertajuk “Commodity Markets Outlook” edisi Oktober 2026. Untuk energi, harganya diproyeksikan naik 32% (year on year/YoY) pada 2026, membalikkan penurunan selama tiga tahun, sebelum kembali turun 12% pada 2027.

Kemudian harga minyak Brent diperkirakan rata-rata US$91 per barel pada 2026, naik dari US$69 pada 2025, kemudian turun menjadi US$79 pada 2027.

Adapun harga komoditas pangan diperkirakan naik sekitar 10% pada 2026 dan 7% pada 2027. Kenaikan ini dipengaruhi oleh konflik yang mengganggu pengiriman biji-bijian, El Niño yang mengancam panen, dan biaya produksi pertanian yang meningkat seiring dengan harga bahan bakar dan pupuk yang tinggi.

Pada 2027, harga komoditas pangan diperkirakan akan kembali naik sebesar 7%, terutama pada harga biji bijian yang naik 9%. Penyebab utamanya adalah hambatan produksi beras di Asia dan produksi gandum secara global, yang umumnya terkait dengan memburuknya kondisi pertanian, di antaranya disebabkan oleh El Niño.

Sementara itu, harga minyak dan tepung diperkirakan akan naik sebesar 8%, didorong oleh produk-produk turunan kedelai karena tingginya permintaan untuk pakan ternak dan bahan bakar nabati, serta produksi minyak sawit yang tertekan karena El Niño.

Di sisi lain, harga minuman diperkirakan akan turun sebesar 24% pada 2026, seiring dengan membaiknya produksi kakao dan kopi setelah sebelumnya sebelumnya diserang oleh penyakit dan kondisi cuaca buruk.

Lebih lanjut, harga pupuk diperkirakan akan naik 14% pada 2026 kemudian pada 2027 akan diproyeksikan kembali ke tingkat harga 2025. Sementara harga urea diperkirakan akan turun sebesar 16% pada 2027 dan 14% pada 2028, dengan asumsi ekspor Timur Tengah pulih dan harga gas alam mereda. Adapun China menjadi pemasok urea utama pada 2026.

Perkiraan Bank Dunia ini tidak mengasumsikan terjadinya peningkatan konflik besar yang dapat memengaruhi pasokan komoditas global. Harga energi dapat semakin meningkat jika konflik di Timur Tengah meningkat dan kerusakan pada infrastruktur minyak Rusia terus berlanjut.

Harga energi yang lebih tinggi dari perkiraan, pengiriman biji-bijian yang terhambat di Laut Hitam, dan El Niño yang semakin kuat, saling menyatu dan dapat menciptakan krisis pangan. Kondisi ini berpotensi mendorong lebih banyak orang jatuh dalam kemiskinan ekstrem, seperti yang terjadi pada awal 2010-an.

Pasokan Minyak Terus Berkurang

Pasokan minyak global diproyeksikan turun 5,5 juta barel per hari atau 5,2% pada 2026, penurunan terbesar dalam lebih dari empat dekade terakhir di luar resesi global 2020 akibat pandemi Covid-19.

Jika konflik semakin meningkat, maka harga minyak Brent rata-rata bisa mencapai US$105 per barel pada 2027 dan harga komoditas pangan bisa 12% lebih tinggi dari proyeksi dasar.

Di sisi lain, konsumsi minyak global diperkirakan akan menyusut sebesar 2,6 juta barel per hari atau 2,5% pada 2026, penurunan terbesar ketiga yang pernah tercatat, setelah tahun pandemi 2020 dan gejolak pasar minyak tahun 1980.

Penurunan konsumsi minyak pada 2026 terjadi karena gangguan pada produksi petrokimia imbas kekurangan bahan baku dan pembatasan ekspor, penggantian bahan bakar minyak dalam beberapa proses industri ketika harga yang tinggi, serta berkurangnya kebutuhan bahan bakar transportasi seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, terutama di China.

Bank Dunia menjelaskan, harga yang tinggi di tengah kekurangan pasokan membatasi permintaan, sedangkan elektrifikasi (proses peralihan penggunaan energi fosil) juga mengurangi penggunaan minyak, terutama di China.

Kendati demikian, produksi tetap di bawah konsumsi sehingga persediaan minyak terus berkurang dan pasar menjadi lebih rentan terhadap gangguan pasokan baru.

Adapun harga minyak Brent diproyeksikan rata-rata hampir US$100 per barel pada kuartal IV/ 2026 karena pasar minyak global tetap mengalami defisit di tengah kekurangan kapal tanker dan serangan berkelanjutan terhadap kapal yang mengakibatkan harga rata rata US$91 per barel untuk 2026.

Apabila tidak terjadi kerusakan permanen tambahan pada infrastruktur minyak, produksi minyak global diproyeksikan sekitar 106 juta barel per hari pada 2027.

Meningkatnya pasokan minyak mentah diperkirakan akan mengurangi ketatnya pasar, mendukung penurunan harga menjadi rata-rata US$79 per barel pada 2027.

Harga Logam dan Mineral Mencapai Titik Tertinggi pada 2026

Indeks harga logam dan mineral diproyeksikan menyentuh rekor tertinggi baru pada 2026, dengan kenaikan sebesar 25% YoY.

Harga logam dasar, termasuk aluminium, tembaga, dan timah, diperkirakan naik tajam lantaran terdapat sejumlah kendala pada pasokan serta meningkatnya investasi pada transisi energi dan teknologi canggih lain.

Sementara itu, indeks harga logam dan mineral diproyeksikan turun tipis sebesar 3% pada 2027 dibandingkan pada 2025. Hal ini disebabkan kondisi pasokan yang sedikit membaik untuk beberapa logam dasar, seiring gangguan produksi atau ekspor yang mulai mereda sejumlah kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi.

Akan tetapi, pertumbuhan pasokan tembaga hasil pertambangan diperkirakan tetap terbatas. Salah satu penyebabnya adalah penurunan kadar bijih di negara produsen tembaga terbesar di dunia, yaitu Chile.

Secara spesifik, harga logam mulia diperkirakan naik rata-rata tajam sebesar 40% pada 2026, didorong oleh tingginya permintaan terhadap aset keuangan yang dapat membantu diversifikasi investasi saat situasi geopolitik sedang tertekan.

Harga emas dan perak diperkirakan sama-sama mencetak rekor harga tahunan. Sementara pada 2027, harga logam mulia diperkirakan sedikit melemah. Kenaikan suku bunga di negara-negara maju belakangan ini diperkirakan mengurangi aliran investasi ke aset yang tidak memberikan imbal hasil rutin, seperti emas.

Selain itu, harga yang tinggi mendorong inovasi untuk mengurangi penggunaan logam mulia dalam kegiatan industri. Kendati demikian, harga logam mulia diperkirakan tetap berada pada level lebih dari tiga kali lipat rata-rata periode 2015–2019.

Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20261103/9/2017857/bank-dunia-prediksi-harga-komoditas-naik-23-ingatkan-potensi-krisis-pangan