JAKARTA, KOMPAS.com – Gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah dan ancaman fenomena El Nino berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketahanan pangan global.
Kedua faktor tersebut dapat memicu kenaikan biaya produksi pertanian sekaligus mengancam hasil panen di sejumlah negara produsen utama dunia.
Dalam laporan khusus berjudul Energy Disruption and El Nino: Leading to a Global Food Crisis?, dikutip pada Senin (26/10/2026), S&P Global Institute mengungkapkan, kenaikan harga energi, gangguan pasokan pupuk, meningkatnya permintaan bahan baku biofuel, serta risiko cuaca ekstrem dapat memperburuk tekanan terhadap pasar pangan dunia.
Laporan tersebut menyebutkan, dampak konflik terhadap sektor pangan diperkirakan semakin terlihat dalam beberapa bulan mendatang, ketika petani menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi dan keterbatasan pasokan pupuk serta bahan bakar diesel.
“Konflik merambat melalui pasar pupuk, energi, dan biofuel,” demikian salah satu poin utama dalam laporan S&P Global Institute.
Menurut laporan itu, keterkaitan antara energi dan pangan menjadi semakin penting karena produksi pertanian bergantung pada ketersediaan pupuk, bahan bakar untuk mesin pertanian, serta transportasi untuk mendistribusikan hasil panen kepada konsumen.
Sementara itu, El Nino yang diperkirakan mencapai puncak pada akhir 2026 berpotensi memperbesar risiko kekeringan dan banjir di sejumlah kawasan pertanian utama Asia, Afrika, dan Amerika Latin pada 2027.
Gangguan energi merambat ke sektor pertanian
S&P Global Institute mengidentifikasi tiga jalur utama yang menghubungkan gangguan energi dengan tekanan terhadap produksi pangan.
Pertama, pupuk sangat bergantung pada energi, terutama gas alam, baik sebagai bahan baku maupun sumber energi dalam proses produksinya.
Gangguan pasokan gas dan bahan baku pupuk dapat meningkatkan biaya produksi sekaligus membatasi ketersediaan pupuk bagi petani.
Kedua, kenaikan harga bahan bakar solar meningkatkan biaya operasional pertanian.
Solar digunakan untuk menggerakkan mesin pertanian, mendukung sistem irigasi, serta mengangkut hasil panen dari lahan pertanian menuju tempat pengolahan dan pasar.
Ketiga, kenaikan harga minyak dan bahan bakar fosil membuat biofuel semakin kompetitif. Kondisi ini dapat meningkatkan permintaan terhadap komoditas pertanian yang digunakan sebagai bahan baku bahan bakar, sehingga persaingan antara kebutuhan pangan dan energi semakin ketat.
“Yang sedang berlangsung bukanlah satu guncangan pertanian, melainkan pertemuan beberapa guncangan,” ungkap S&P Global Institute.
Laporan tersebut menjelaskan, konflik geopolitik menekan pasar pupuk, energi, dan biofuel pada saat ancaman El Nino berpotensi mengganggu hasil panen.
Kondisi ini juga terlihat dari keputusan petani di beberapa negara yang mulai menyesuaikan luas lahan tanam atau mengurangi penggunaan input produksi akibat kenaikan biaya.
Di Uni Eropa, luas lahan jagung diperkirakan mencapai titik terendah dalam catatan yang dibahas laporan tersebut. Sementara itu, pertumbuhan luas lahan kedelai di Brasil menjadi yang terlemah dalam dua dekade, sedangkan luas lahan gandum Australia turun 13 persen secara tahunan.
Selat Hormuz menjadi titik rawan pasokan pupuk
Salah satu jalur gangguan utama berasal dari konflik di Timur Tengah yang memengaruhi lalu lintas perdagangan melalui Selat Hormuz.
Menurut S&P Global Institute, gangguan pelayaran di kawasan tersebut telah mengurangi pergerakan minyak, gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), serta pupuk dan bahan baku pupuk.
Selat Hormuz bukan hanya jalur penting perdagangan minyak dan gas. Jalur tersebut juga dilalui sejumlah komoditas yang diperlukan untuk menjaga produksi pupuk global, termasuk urea, amonia, dan sulfur.
Laporan itu mencatat, sekitar 29 persen perdagangan urea global biasanya melewati Selat Hormuz. Namun, volume tersebut setara dengan sekitar 8 persen dari total permintaan urea dunia karena sebagian besar produksi digunakan di negara asalnya.
Gangguan pasokan urea masih dapat diimbangi sebagian oleh pemasok alternatif, meskipun dengan risiko volatilitas harga dan kendala logistik yang lebih besar.
Harga urea Timur Tengah dengan basis free on board (FOB) rata-rata mencapai 420 dollar AS per ton pada Januari 2026, sebelum perang. Harga tersebut kemudian melonjak menjadi 910 dollar AS per ton pada April 2026, saat musim pemupukan musim semi di belahan Bumi utara, lalu turun menjadi sekitar 380 dollar AS per ton pada akhir September 2026.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/10/26/081800526/s-p-global–gangguan-energi-dan-el-nino-berisiko-picu-krisis-pangan-global